
Well, sebenernya gue udah baca bagian awal buku ini sejak pertengahan 2006, waktu itu gue pinjem dari salah seorang housemate. Entah mengapa waktu itu temen gue yg lain tiba2 mengambil alih buku itu dari gue. Dan sampai ketika rumah kami bubar, gue belum sempet lagi meluangkan waktu membaca lanjutannya.
Lembar-lembar pertama buku ini langsung membuat gue terharu membayangkan kenyataan di negeri kita Indonesia, betapa masih banyak nya anak2 Indonesia yg tidak bisa bersekolah. Bahkan bisa memegang buku dan alat tulis pun sesuatu yg sangat luar biasa dan sangat istimewa bagi anak2 kampung itu. kenyataan yg menyakitkan tentunya, bila dibandingkan dengan kondisi di jakarta yg relatif lebih mudah untuk bersekolah, kondisi dimana ada seorang selebritis (yg nama nya akhir2 ini ramai dibicarakan di beberapa milis karena aksen bicara yg menurut gue menjijikan dan aneh) yg konon berganti mobil setiap beberapa bulan sekali.
Buku ini begitu hebatnya mengisahkan 10 orang anak yg baru mulai masuk sekolah dasar di sebuah sekolah kampung yg bangunan nya hampir roboh. Anak2 kampung yg memiliki energi tak terkira besarnya untuk bisa mengenyam pendidikan. Anak2 para kuli tambang dan nelayan ujung pulau yg lebih diharapkan dapat membantu ekonomi keluarga dengan menjadi kuli upah. Perjuangan anak2 kampung ini buat gue amat sangat luar biasa. Bagimana seorang Lintang rela menempuh puluhan km bersepeda demi hanya untuk masuk sekolah, serta 9 orang bocah lain nya yg tetap semangat untuk mengakhiri kebodohan mereka dengan fasilitas yg serba terbatas.
Buku ini juga memberikan pesan2 moral yg amat tinggi. Pesan tentang keikhlasan, kesabaran, kejujuran, serta prinsip amar ma'ruf nahi munkar yg disampaikan dengan bahasa yg begitu sederhana. Bahasa orang kampung kalau kata orang mah. Tak banyak ayat Qur'an atau Hadist yg dikutip dalam buku ini, namun pesan2 Al-Qur'an tersampaikan dengan begitu halus dan sederhananya. Sangat brilian kalau menurut gue. Jauh bila dibandingkan dengan novel laris Ayat-ayat cinta yg begitu banyak digandrungi oleh para akhwat, no offence loh ya (sambil lirik2 sama Mpo Dedew :P). Dimana setiap kali Fahri bicara persis seperti orang sedang khotbah jumat di mesjid. Sesuatu yg hanya mungkin terjadi di lingkungan dengan kultur arab yg kental seperti mesir, namun sangat tidak relevan untuk kalangan kampung2 di Indonesia. ~loh kok jadi bahas ayat2 cinta~
Gambaran realita kehidupan masyarakat di Indonesia amat terasa dalam setiap bab dalam buku ini. Kehidupan dua sisi kontras strata sosial yg hanya dipisahkan oleh sebuah tembok besar. Tokoh2 di dalam buku ini amat sangat menarik menurut gue. Lintang, seorang anak buruh nelayan yg dalam silsilah keluarganya sudah 5 generasi buta huruf, namun ayahnya lebih memilih mengirimnya ke sekolah daripada menjadi seoarang kuli upah dengan harapan kelak dapat memperbaiki nasib keluarga. Pilihan yg membuat Lintang akhirnya mengenal huruf dan angka yg kelak menjadikannya sebuah mutiara yg tak ternilai. Seorang Einstain kecil yg amat brilian. Kecerdasan alami yg dimiliki Lintang begitu memukau. Bagaimana mungkin anak seorang buruh nelayan di ujung pulau sana bisa menguasai prinsip2 dasar dan nilai2 filosofis yg terkandung dalam sebuah ilmu. Diumurnya yg amat belia, Lintang mampu membuat simplifikasi masalah yg rumit dan menemukan metode nya sendiri yg efisien (sungguh merupakan bakat yg diperlukan oleh seorang ilmuwan). Di bangku smp Lintang mampu menerangkan operasi persamaan matematik aljabar linear dalam bentuk matrix. Tak hanya sampai disitu, ia mampu memberikan alternatif2 solusi persamaan linear dengan metode gauss-jordan bahkan vektor eigen. Sungguh bakat kalkulus yg luar biasa.
Namun tuntutan hidup berkata lain. Setelah ayah nya meninggal, Lintang harus menghadapi kenyataan bahwa ia harus menopang kehidupan keluarga serta 5 orang adik2 nya. Kenyataan yg membuat nya harus drop out dari sekolah dan akhirnya menjadi seorang buruh sopir konstruksi bangunan. Sungguh nasib yg memilukan hati. Betapa bakat dan kejeniusan nya yg langka terbentur oleh kenyataan hidup. Ending cerita yg mungkin tidak menarik bagi sebagian orang. Buku ini tidak memberikan ending dimana Lintang yg cerdas dan begitu miskin digandrungi oleh wanita2 cantik yg kemudian menemukan seorang istri cantik nan kaya dan akhirnya hidup enak. Bukan..! ini bukan sebuah cerita yg menjual mimpi yg hanya pantas di sinetronkan oleh production house keluarga Punjabi. ~Loh ini sebenernya lagi review buku apa siiiy~
Kekuatan buku ini terletak pada keunikan karakter yg dimiliki setiap tokoh. Sebut saja Kucai yg oportunis, banyak omong, dan menghabiskan 9 tahun karir akademis nya menjadi ketua kelas akhirnya memilih jalur politik sebagai pilihan hidupnya. Betapa mental juang Syahdan yg sempat menjadi pemeran figuran demi meraih cita2nya menjadi seorang aktor malah membuatnya menemukan bakatnya yg terpendam dalam mengutak-atik bahasa program. Menjadikan dirinya anggota laskar pelangi yg paling sukses dari segi finansial.
Atau Mahar misalnya, seorang yg memiliki bakat seni luar biasa. Nasibnya tidak jauh berbeda seperti Lintang. Mereka adalah 2 orang jenius yg terbentur tuntutan tanggung jawab keluarga. Hanya lulus sma dan sempat menganggur lama, akhirnya Mahar behasil menerbitkan buku pertama nya, Ia berubah menjadi seorang penulis berbakat. Sedangkan A Kiong yg selama di kelas selalu menjadi pengikut setia Mahar bahkan memposisikannya seperti penasehat spritual, akhirnya menjadi sedikit dari orang2 beruntung yg menerima hidayah Allah. Seorang keturunan tioghua yg menjelma menjadi muslim taat bernama Nur Zaman.
Secara umum, buku ini membuat gue penasaran untuk membaca lanjutan kisah nya. Sang Pemimpi, Edensor, dan Maryamah Karpov sudah masuk daftar list buku yg harus gue beli nanti pas liburan ke Indonesia. Gue berani memberi nilai 8,5 (skala 10) untuk buku ini, 2,5 point lebih tinggi dari yg gue berikan buat Ayat2 Cinta (yg gue kasih nilai 6, tadinya siy mo kasih 5 cuma gak tega juga, kkkk)~loh kok jd balik lagi ke buku itu siy~
-putra-
Monday, February 11, 2008
Laskar Pelangi
Posted by Saputra at 1:58 PM 7 comments
Labels: Buku
Subscribe to:
Posts (Atom)