
Akhirnya gue menyempatkan nonton film Gie beberapa waktu yg lalu (padahal file nya dah nongkronng di hardisk gue dari kapan tau). Film dimulai dg pidato presiden Sukarno yg ternal pada HUT RI thn 1963. Salah satu bunyi pidato nya yg gue inget adalah 'padahal angkatan perang tidak boleh ikut-2 politik'. Well maybe at that time Soekarno begin to realize that the army start to enter the politics, form as one of political power in Indonesia. Leaving their main duty and professionalism as a national defense power.
Mungkin bagi sebagian orang Gie bukan lah sebuah film yg menarik untuk ditonton. Kenyataan nya memamang dari sisi hiburan film ini amatlah sangat tidak menarik dan membosankan. Tidak ada adegan humor, apalagi action dalam film ini, mungkin banyak orang malah jd ngantuk nonton nya.
Namun bagi gue pribadi, film ini amatlah sangat menarik. Setiap adegan nya membuat gue melek akan sejarah gelap Indonesia pada periode 50an smp 6oan. Kalo boleh jujur, gue sendiri masih bingung, sebenernya apa yg terjadi saat itu. Sungguh sebuah ketidakpastian sejarah yg menurut gue sengaja tidak diungkap dalam pelajaran-2 sejarah di sekolah, Setidak nya pd zaman gue msh pergi ke sekolah dulu.
Mungkin sejarah gelap itu imbas dari perang ideologi amerika-soviet yg masing-2 berusaha saling mencari 'daerah kekuasaan' (well..again another new form of collonialization). Yang bisa gue simpulkan, waktu itu mungkin situasi politik di Indonesia benar-2 terpolarisasi antara ideologi nasionalis, komunis, dan Islam. Soekarno tentu nya ingin ada nya keseimbangan polarisasi itu. Namun yg terjadi adalah Soekarno terlalu dekat dengan komunis (yg didukung soviet), sehingga TNI(yg didukung Amerika) yg juga sudah ikut-2 an masuk politik merasa terancam kedudukan nya. Tinggalah kelompok Islam yg secara alami tentu akan berdiri di garis depan dalam menghadapi ideologi komunis.
Mudah ditebak tentunya siapa yg menghasut, terhasut, dan yg merasa saling terancam satu sama lain. Sungguh sebuah periode gelap klo menurut gue.
Balik lagi ke film Gie. Walaupun ada bumbu2 percintaan yg ditambah dalam film ini, yg sebenarnya tidak ada dalam catatan harian Soe Hok Gie yg asli, tetap film ini mendapat kredit tersendiri di hati gue. Bagaimana perjuangan mahasiswa saat itu juga ikut terpolarisasi, dan sudah tidak murni lg untuk rakyat. Aktifis yg dulu nya suka ikut demo, akhirnya terjerumus dalam sistem setelah mereka duduk dan merasakan enak dan manis nya 'kue politik'. Well gak jauh beda juga sih sama demo mahasiswa sekarang. Liat ajah aktifis yg suka demo pasti ujung2 nya pada korupsi setelah masuk politik. Apa yg dilakukan mereka bukan murni untuk rakyat.
Jadi yah kesimpulan nya, gue mah orang yg paling skeptis klo liat mahasiswa demo. Entah demo BBM lah, atau demo apa lah nama nya. BTW itu kompak demo mahasiswa di tanah air, sampe timpuk2 an batu sm polisi, bakar2 ban, bakar mobil, tiap hari pula. klo dipikir2 itu harus bolos berapa mata kuliah yah? kkk...!.
Untuk yg kul di PTN, bukan nya semakin lama mereka lulus, semakin lama pula mereka memakan jatah subsidi org2 lain untuk bs masuk PTN?. Melakukan sesuatu atas nama rakyat, tapi harus mendzolimi rakyat yg lain, aah kok rasa nya aneh buat gue.
Tuesday, July 22, 2008
Gie
Posted by Saputra at 2:09 PM 5 comments
Monday, July 21, 2008
Surat Sakti

Lagi iseng browsing-2 nyari paper nya mbah Einstein. Eh gak tau nya nemu salinan surat Einstein untuk presiden F.D.Roosevelt.
Ceritanya saat itu thn 1938, Niels Bohr yg mengajar di Princeton denger kabar kalo Otto Hahn di Jerman berhasil mendeteksi elemen Barium setelah memborbardir uranium dg neutron(selanjutnya thn 1944 Hahn meraih hadiah nobel kimia untuk penemuan nuclear fission ini). Lalu Bohr datang untuk nemuin Fermi di columbia univ. Gak lama setelah itu Fermi berhasil membuat experiment nuclear fission yg pertama di amerika pd januari 1939.
6 bulan setelah experiment itu, Szilard meyakini bahwa nazi sedang mengembangkan nuclear bomb setelah mendengar kabar kalo German telah menghentikan penjualan uranium dari Czechoslovakia yg baru saja ditaklukan. Tidak mendapatkan official support dari pemerintah serta gagal membujuk fermi melanjutkan experiment, Szilard berhasil meyakinkan mbah Einstein buat nulis surat ke presiden Roosevelt.
Seluruhnya ada 4 surat Einstein untuk presiden Roosevelt yg akhirnya di published. Di sini gue lampirkan salinan lembar pertama dari surat pertama Einstein buat presiden Roosevelt.
Huhu...andai saja dulu gak ada surat ini, dan Nazi German lah yg berhasil membuat nuclear bomb, mungkin sejarah akan berbeda. Atau andai gak ada surat ini, mungkin saja jepang tak akan terkalahkan di perang Asia timur. dan mungkin Indonesia tidak merdeka tgl 17 agustus 1945.
Atau bila saja surat ini tidak ada dan German pun gagal mengembangkan nuclear bomb, saat ini dunia akan lebih damai tanpa nuclear bomb dan Amerika tidak se arogan sekarang, huh...benar-2 surat yg amat sakti.
Posted by Saputra at 11:24 AM 0 comments
Thursday, July 17, 2008
Scientific conference: dulu dan sekarang

Mempresentasikan hasil riset di sebuah international conference bukanlah hal yg asing bagi yg berkecimpung di dunia riset. Walaupun paper yg kita presentasikan hanya masuk proceedings, tapi lumayan lah sedikit banyak ada ilmu dan informasi yg bisa kita dapetin.
kalau dulu scientific conference murni menjadi ajang diskusi, debat, dan publikasi. Sekarang ini, scientific conference tidak lebih dari hanya sebagai ajang 'temu kangen' ilmiah, tukar kartu nama, dan malahan telah menjadi sarana plesiran. Tidak salah memang, karena gue sendiri jujur suka jalan2, dan lumayan bisa mempromosikan dunia pariwisata negara tuan rumah tempat conf berlangsung.
Dulu selama tinggal di korea, prof-2 di korea terkenal paling suka membawa set peralatan golf mereka setiap kali pergi ke sebuah conf. Tidak jarang malah mereka cuma datang untuk melihat student nya presentasi, selebihnya mereka asik maen golf. Yah...maklum lah negara baru mau maju.
Bagaimana dg prof-2 di belanda? hem gue belum bisa melihat kecenderungan nya secara umum. Pernah beberapa saat yg lalu, pergi ke conf bareng prof gue yg sekarang. Gue perhatiin, at least dia hampir selalu menghadiri setiap session. Dan yg jelas gak sampe bawa peralatan golf. hehe...
Sepertinya gue melihat skrg ini sci conf kental dg nuansa komersil. Dari mulai biaya pendaftaran yg mahal (pastinya organizer nya mau dpt untung laah), diadakan di hotel berbintang, jamuan gala dinner, suguhan pertunjukan seni (bila conf diadakan di negara2 ASIA). Biasa menggunakan Akronim sebagai nama conf, ada yg ICUS, ISMA, ASME, APIS, etc
Bandingkan dengan Solvay conference, yg paling terkenal mungkin conf ke 5 pd thn 1927. Dari 29 peserta yg hadir saat itu, selanjutnya 17 diantara nya adalah peraih nobel fisika. Edaaaan, ini baru nama nya scientific conference beneran. Yang datang gak tanggung-2, sebut saja nama-2 ilmuwan besar seperti Einstein, Schrodinger, Pauli, Heisenberg, Debye, Knudsen, Kramers, de.Broglie, Niels Bohr, Langmuir, Max planck, Lorentz, Piccard, Marie Curie, dll.
lalu..lalu, kalau orang Indonesia pergi ke International conference gimana? hem...yg jelas pasti gak lupa untuk sesi foto2 ceria, dan bawa memori card yg kapasitas nya minimal 2GB, wekeke....
Posted by Saputra at 4:18 PM 1 comments
Labels: Science
I'm back ...
Hallo teman2, setelah sekian lama off dari blog ini, akhirnya gue memutuskan untuk kembali. Yah..harap maklum karena akhir2 ini gue sibuk sama persiapan resepsi pernikahan di Indonesia, halah...alesan
anyway...gue akan coba untuk kembali memupuk semangat gue buat nulis lagi di blog ini.
salam.
putra
Posted by Saputra at 4:14 PM 1 comments
Tuesday, February 12, 2008
Microfluidics (part1)
gue : mpo…oi, onlen gak?
teman : yaa bang, aye inpis bang,
gue : hooo..
gue : eh mpo pernah denger microfluidics gak?
teman : he? apaan tuh bang? merk sabun cuci yee?
gue : bukaaan, ih mpo ih. itu branch ilmu Fluid Mechanics
teman : hoo…gituw (sambil ngelap muka)
gue : klo navier-stokes? pernah denger gak mpo nama itu?
teman : ih sapee tuh bang? mahasiswa ITB yah? ganteng gak bang orang nye? titip salam dong!
gue : ih bukaaaan, itu nama persamaan mpo
teman : hooo… gituw (sekarang ngelap idung)
Bagi sebagian besar orang, mungkin istilah microfluidics merupakan benda asing yg tak menyenangkan untuk disimak. Kenyataan nya istilah itu pun baru muncul seiring buming nya riset di bidang micro chips dan micro elektronik sekitar dekade 80an. Ketika Richard Feynman, seorang fisikawan besar abad 20 mempublikasikan paper terkenal yg berjudul ‘There’s plenty of room at the bottom’ pada tahun 1960, dunia riset mulai sibuk membuktikan prediksi Feynman tentang micro/nano teknologi. Prediksi Feynman pun terbukti sudah. Tak lama setelah kita memasuki milenium baru, chip prosesor burukuran 65nm pun berhasil dibuat. Memori stik dengan kapasitas beberapa giga byte pun dengan mudahnya kita dapatkan.
Mengapa cerita singkat itu gue tulis, karena dari situlah microluidics lahir. Kemampuan membuat suatu device atau sistem dengan ukuran micro/nano memungkinkan para peneliti pada bidang fluid mechanics untuk menganalisa fluida dalam sekala itu. Jika dulu para insinyur aerospace atau maritime menggunakan wind tunnel atau water tunnel untuk menguji pesawat atau kapal selam mereka. Microluidics adalah skala kecil dari itu semua, menggunakan filosofi yg sama namun pendekatan yg berbeda. Tetap menggunakan medium fluida dengan ukuran channel diperkecil menjadi micron atau bahkan nano. Pendekatan kontinum pun tidak valid lagi untuk memprediksi fluid behavior dalam skala ini karena Reynolds number yg begitu rendah, yg membuat efek viskositas fluida lebih dominan daripada efek inersianya.
Lalu apa guna nya? Hem…good question. Let me show you one example.
Bayangkan tubuh kita dibangun oleh organ2 dan system metabolisme yg terdiri dari sel, dan pembuluh2 darah yang sangat kecil ukuran nya. Kandungan air dalam tubuh manusia yg hamper 60% dari berat badan menjadikan sistem2 itu bekerja dalam kondisi wet. Nah sudah bisa menebak hubungan nya kan?
Yup, microluidics membuka peluang bagi para peneliti untuk mengetahui, menganalisa, bahkan memprediksi bagaimana pola dan properties aliran darah dalam sebuah arteri misal nya. Kenyataan nya potensi aplikasi microluidics memang sangat besar dalam bidang bio-MEMS atau pun drug delivery. Masih banyak aplikasi microluidics yg sangat potensial dan punya market size yg besar. Produk yg paling terkenal saat ini adalah lab on chip. Chip yg terdiri dari rangkaian micro/nano chanel dan terintegrasi dengan pumps, valves, dan sensor yg mampu melakukan analisis kimia dalam sebuah chip yg hanya berukuran beberapa millimeter saja.
(to be continued)
-putra-
Posted by Saputra at 1:52 PM 11 comments
Labels: Science
Monday, February 11, 2008
Laskar Pelangi

Well, sebenernya gue udah baca bagian awal buku ini sejak pertengahan 2006, waktu itu gue pinjem dari salah seorang housemate. Entah mengapa waktu itu temen gue yg lain tiba2 mengambil alih buku itu dari gue. Dan sampai ketika rumah kami bubar, gue belum sempet lagi meluangkan waktu membaca lanjutannya.
Lembar-lembar pertama buku ini langsung membuat gue terharu membayangkan kenyataan di negeri kita Indonesia, betapa masih banyak nya anak2 Indonesia yg tidak bisa bersekolah. Bahkan bisa memegang buku dan alat tulis pun sesuatu yg sangat luar biasa dan sangat istimewa bagi anak2 kampung itu. kenyataan yg menyakitkan tentunya, bila dibandingkan dengan kondisi di jakarta yg relatif lebih mudah untuk bersekolah, kondisi dimana ada seorang selebritis (yg nama nya akhir2 ini ramai dibicarakan di beberapa milis karena aksen bicara yg menurut gue menjijikan dan aneh) yg konon berganti mobil setiap beberapa bulan sekali.
Buku ini begitu hebatnya mengisahkan 10 orang anak yg baru mulai masuk sekolah dasar di sebuah sekolah kampung yg bangunan nya hampir roboh. Anak2 kampung yg memiliki energi tak terkira besarnya untuk bisa mengenyam pendidikan. Anak2 para kuli tambang dan nelayan ujung pulau yg lebih diharapkan dapat membantu ekonomi keluarga dengan menjadi kuli upah. Perjuangan anak2 kampung ini buat gue amat sangat luar biasa. Bagimana seorang Lintang rela menempuh puluhan km bersepeda demi hanya untuk masuk sekolah, serta 9 orang bocah lain nya yg tetap semangat untuk mengakhiri kebodohan mereka dengan fasilitas yg serba terbatas.
Buku ini juga memberikan pesan2 moral yg amat tinggi. Pesan tentang keikhlasan, kesabaran, kejujuran, serta prinsip amar ma'ruf nahi munkar yg disampaikan dengan bahasa yg begitu sederhana. Bahasa orang kampung kalau kata orang mah. Tak banyak ayat Qur'an atau Hadist yg dikutip dalam buku ini, namun pesan2 Al-Qur'an tersampaikan dengan begitu halus dan sederhananya. Sangat brilian kalau menurut gue. Jauh bila dibandingkan dengan novel laris Ayat-ayat cinta yg begitu banyak digandrungi oleh para akhwat, no offence loh ya (sambil lirik2 sama Mpo Dedew :P). Dimana setiap kali Fahri bicara persis seperti orang sedang khotbah jumat di mesjid. Sesuatu yg hanya mungkin terjadi di lingkungan dengan kultur arab yg kental seperti mesir, namun sangat tidak relevan untuk kalangan kampung2 di Indonesia. ~loh kok jadi bahas ayat2 cinta~
Gambaran realita kehidupan masyarakat di Indonesia amat terasa dalam setiap bab dalam buku ini. Kehidupan dua sisi kontras strata sosial yg hanya dipisahkan oleh sebuah tembok besar. Tokoh2 di dalam buku ini amat sangat menarik menurut gue. Lintang, seorang anak buruh nelayan yg dalam silsilah keluarganya sudah 5 generasi buta huruf, namun ayahnya lebih memilih mengirimnya ke sekolah daripada menjadi seoarang kuli upah dengan harapan kelak dapat memperbaiki nasib keluarga. Pilihan yg membuat Lintang akhirnya mengenal huruf dan angka yg kelak menjadikannya sebuah mutiara yg tak ternilai. Seorang Einstain kecil yg amat brilian. Kecerdasan alami yg dimiliki Lintang begitu memukau. Bagaimana mungkin anak seorang buruh nelayan di ujung pulau sana bisa menguasai prinsip2 dasar dan nilai2 filosofis yg terkandung dalam sebuah ilmu. Diumurnya yg amat belia, Lintang mampu membuat simplifikasi masalah yg rumit dan menemukan metode nya sendiri yg efisien (sungguh merupakan bakat yg diperlukan oleh seorang ilmuwan). Di bangku smp Lintang mampu menerangkan operasi persamaan matematik aljabar linear dalam bentuk matrix. Tak hanya sampai disitu, ia mampu memberikan alternatif2 solusi persamaan linear dengan metode gauss-jordan bahkan vektor eigen. Sungguh bakat kalkulus yg luar biasa.
Namun tuntutan hidup berkata lain. Setelah ayah nya meninggal, Lintang harus menghadapi kenyataan bahwa ia harus menopang kehidupan keluarga serta 5 orang adik2 nya. Kenyataan yg membuat nya harus drop out dari sekolah dan akhirnya menjadi seorang buruh sopir konstruksi bangunan. Sungguh nasib yg memilukan hati. Betapa bakat dan kejeniusan nya yg langka terbentur oleh kenyataan hidup. Ending cerita yg mungkin tidak menarik bagi sebagian orang. Buku ini tidak memberikan ending dimana Lintang yg cerdas dan begitu miskin digandrungi oleh wanita2 cantik yg kemudian menemukan seorang istri cantik nan kaya dan akhirnya hidup enak. Bukan..! ini bukan sebuah cerita yg menjual mimpi yg hanya pantas di sinetronkan oleh production house keluarga Punjabi. ~Loh ini sebenernya lagi review buku apa siiiy~
Kekuatan buku ini terletak pada keunikan karakter yg dimiliki setiap tokoh. Sebut saja Kucai yg oportunis, banyak omong, dan menghabiskan 9 tahun karir akademis nya menjadi ketua kelas akhirnya memilih jalur politik sebagai pilihan hidupnya. Betapa mental juang Syahdan yg sempat menjadi pemeran figuran demi meraih cita2nya menjadi seorang aktor malah membuatnya menemukan bakatnya yg terpendam dalam mengutak-atik bahasa program. Menjadikan dirinya anggota laskar pelangi yg paling sukses dari segi finansial.
Atau Mahar misalnya, seorang yg memiliki bakat seni luar biasa. Nasibnya tidak jauh berbeda seperti Lintang. Mereka adalah 2 orang jenius yg terbentur tuntutan tanggung jawab keluarga. Hanya lulus sma dan sempat menganggur lama, akhirnya Mahar behasil menerbitkan buku pertama nya, Ia berubah menjadi seorang penulis berbakat. Sedangkan A Kiong yg selama di kelas selalu menjadi pengikut setia Mahar bahkan memposisikannya seperti penasehat spritual, akhirnya menjadi sedikit dari orang2 beruntung yg menerima hidayah Allah. Seorang keturunan tioghua yg menjelma menjadi muslim taat bernama Nur Zaman.
Secara umum, buku ini membuat gue penasaran untuk membaca lanjutan kisah nya. Sang Pemimpi, Edensor, dan Maryamah Karpov sudah masuk daftar list buku yg harus gue beli nanti pas liburan ke Indonesia. Gue berani memberi nilai 8,5 (skala 10) untuk buku ini, 2,5 point lebih tinggi dari yg gue berikan buat Ayat2 Cinta (yg gue kasih nilai 6, tadinya siy mo kasih 5 cuma gak tega juga, kkkk)~loh kok jd balik lagi ke buku itu siy~
-putra-
Posted by Saputra at 1:58 PM 7 comments
Labels: Buku
PPI Delft Goes to Paris

Siapa sih yang gak tau Paris!. Hem...kata nya si niy, belum ke eropa nama nya kalo belum mengunjungi kota Paris. Sebuah pernyataan yang jelas bakal bikin orang yg belum pernah kesana makin penasaran sama tuh kota. Seberapa indah dan cantik sih sebenarnya kota Paris itu? Well...walaupun agak terlambat posting nya, karena kita berangkatnya tengah desember lalu, tapi ga ada salah nya gue tulis sekarang.
Ok...here we go!
Berangkat menjelang tengah malam tentunya bukan pilihan yg menarik untuk jalan2. Apalagi harus mengayuh sepeda untuk sampai ke kampus. Sekali lagi bukan pilihan yang menarik mengingat suhu saat itu mencapai minus. Yah..ga ada pilihan lain karena bus yang akan kami tumpangi akan berangkat dari kampus jam 11 malam.
Tentunya cuma ada satu pilihan untuk menghabiskan malam di dalam bus, yaitu tidur. Hanya saja rencana gue untuk beristirahat itu agak terganggu dengan diputar nya film Friends seson 10. Yah...mau gak mau melihat banyolan2 mereka membuat gue agak susah menahan tawa, walaupun kalo diitung2 sepertinya sudah berkali2 gue nonton friends season 10. Tapi akhir nya toh gw sempat tertidur juga, walaupun cuma tidur ayam kalo kata orang mah.
Tepat subuh hari bus kami tiba di kota Paris. First impression...? hem agak2 gimanaa gitu. Soal nya bus kami melewati sekerumunan orang dengan beberapa orang polisi berdiri siaga di tepi jalan. Bahkan ada perkelahian kecil diantara kerumunan orang2 tersebut, yah...bisa ditebak pastinya.
Tempat pertama yang kita kunjungi adalah montmartre, sebuah tempat dimana kita bisa melihat view kota paris. Tapi kok pas sampe disana view nya kurang terlihat yah?. Hem sudahlah. Perjalanan dilanjutkan menuju museum Louvre yg terkenal itu. Sayang kita gak sempet masuk museumnya. Yah nanti deh lain kali kalo ke Paris lagi gue pasti bakal sempetin masuk. Selanjutnya kita ke Palace De La concorde. Hem gak banyak yg bisa dilihat disini, tapi katanya temen siy tempat ini bagusnya kalau malam hari.
Setelah istirahat dan makan siang, kita foto-foto di Arc De Triomphe lalu ke tempat paling terkenal di Paris, yup...Eifel tentunya. Ternyata yg namanya tempat wisata ada ajah para pengganggu. Entah mengapa banyak imigran yg sibuk menawarkan souvenir2 aneh bahkan yg sibuk meminta-minta. Sangat mengganggu kenyamanan bagi yg ingin menikmati suasana di Eifel. Malahan gue mengalami sebuah kejadian tragis ketika mengeluarkan roti untuk mengganjal perut, tiba2 seorang cw menyentuh roti yg sedang gue makan. Iihh nge BT in banget gak sih. Sebel banget gue, Gak berhenti sampai disitu, tiba2 dia langsung ambil roti yg ada ditangan gue dan dimakannya. Well..mungkin karena mereka maksa minta uang (sambil menyodorkan daftar tanda tangan penyumbang yg pastinya fiktif), tapi gak jg gue kasih kali yah. Jadi jangan harap bisa menemukan suasana nyaman di Eifel apalagi romantis. Yah semoga ketika gue balik ke Paris, Eifel sudah bersih dari para pengganggu.
Kami menghabiskan sore hari di sebuah mesjid yg ada di kota Paris. Lumayan besar mesjidnya, cukup nyaman tentunya untuk sekedar duduk dan meluruskan kaki yg pegel2 dipake jalan seharian. Tepat setelah solat magrib kami melanjutkan perjalanan ke Notre dame sambil mencari tempat makan malam. Menu yg murah meriah, mudah dicari dan halal tentu saja kebab. Jadilah kita singgah di salah satu kedai kebab, sementara teman2 yg lain mungkin memilih tempat berbeda.
Pemandangan kota Paris di malam hari sungguh cantik. Gemerlap lampu hias mempercantik suasana kota. Pastinya gue gak melawatkan foto dengan background Eifel dan Arc de triophe di malam hari. well...secara umum jalan2 nya lancar dan menyenangkan. Terlepas dari insiden perampasan roti yg sedang gue makan :P, gue pengen balik lagi mengunjungi kota Paris suatu saat nanti.
-putra-
Posted by Saputra at 1:50 PM 1 comments
Labels: Jalan-jalan